Visi; Dengan pendidikan yang berciri khas Islam terbentuk siswa yang berkemampuan memadukan IMTAQ dan IPTEK, Menjadi Orang yang beriman, berahlak mulia dan berbudaya
Rabu, 06 April 2011
PROGRAM KERJA PGRI KEC. SUMBAWA
Silahkan Klik disinihttp://www.4shared.com/file/CKaxG19p/Prog_Kerja.html
Minggu, 06 Maret 2011
MENIKAH DENGAN PEREMPUAN YANG PERNAH BERZINA
Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya jika saya ingin menikahi wanita yang pernah berzina ?
Jawab ;
Hukum menikahi wanita yang pernah berzina ada dua pendapat; pertama, hukumnya haram. Ini pendapat dari Sayidina Ali, Siti Aisyah dan Ibnu Mas’ud. Kedua hukumnya jawaz (boleh). Pendapat ini dari Sayidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ibnu Abbas dan Imam Fiqih yang empat.
Dalil yang digunakan oleh yang pertama adalah dzohirnya ayat dalam surat an-nur ayat 3, laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musrik. Dari ayat itu menunjukkan adanya larangan menikahi wanita berzina, karena walaupun kalimat ‘tidak mengawini’ (laa yankihuhaa)itu kalimat khabar bukan nahi tetapi ditegaskan diakhir dengan kalimat ’diharamkan’ atas orang yang mu’min (wahurrima dzalika alal mu’miniin)
Pendapat yang kedua memberikan penjelasan bahwa ayat ‘Az-aaniyatu laa yankihuhaa illa zaanin’ itu diartikan pada umumnya seorang wanita yang fasiqoh (pernah berbuat zina) tidak suka dinikahi oleh orang yang mu’min. begitu pula berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Thabrani dan al-Daraqutni dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah ditanya tentang seseorang laki-laki yang menzinahi seorang perempuan kemudian dia ingin menikahinya, maka Rasulullah bersabda; “yang awal itu pelacuran dan yang kedua itu pernikahan. Suatu perbuatan haram tidak mengharamkan sesuatu yang halal.”
Menikahi orang yang pernah berzina secara fiqih ada dua pendapat, ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan. Menurut penulis itu boleh, asal sudah memenuhi syarat dan rukun. Namun perlu dipertimbangkan kondisinya, apakah benar-benar ikhlas menerima keadaanya.
Jumat, 11 Februari 2011
CARILAH ISTRI YANG SHALIHAH
Perhiasan yang indah adalah istri sholehah. Istri yang sholeh akan membuat damai, ketenangan dalam batin suaminya. Segala rasa susah dan gundah akan hilang ketika melihat senyum dan ketaatan istri yang sholeh. Mencari seorang istri yang sholeh tidaklah gampang tapi kita bisa mendapatkannya dengan berdoa dan berikhtiar.
Berikut hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menjadikan seseorang menjadi istri dalam islam.
01. Karena akidahnya yang Shahih
Keluarga adalah salah satu benteng akidah. Karena itu keluarga harus benar-benar kokoh dan tidak bisa ditembus. Jika rapuh, maka rusaklah RT itu. Dan faktor penting yang bisa membantu seorang lelaki menjaga kekokohan benteng rumah tangganya adalah istri shalihah yang berakidah shahih serta paham betul akan peran dan fungsinya sebagai madrasah bagi calon pemimpin umat generasi mendatang.
Allah menekankah hal ini dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)
02. Karena paham agama dan mengamalkannya
Ada banyak hal yang membuat seorang lelaki mencintai wanita. Ada yang karena kemolekannya semata. Ada juga karena status sosialnya. Tidak sedikit lelaki menikahi wanita karena wanita itu kaya. Tapi, kata Rasulullah yang beruntung adalah lelaki yang mendapatkan wanita yang faqih dalam urusan agamanya. Itulah wanita dambaan yang lelaki shalih.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung.” (Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw. juga menegaskan, “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita yang shalihah.” (Muslim, Ibnu Majah, dan Nasa’i).
Jadi, hanya lelaki yang tidak berakal yang tidak mencintai wanita shalihah.
03. Dari keturunan yang baik
Rasulullah saw. mewanti-wanti kaum lelaki yang shalih untuk tidak asal menikahi wanita. “Jauhilah rumput hijau sampah!” Mereka bertanya, “Apakah rumput hijau sampah itu, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Wanita yang baik tetapi tinggal di tempat yang buruk.” (Daruquthni, Askari, dan Ibnu ‘Adi)
Karena itu Rasulullah saw. memberi tuntunan kepada kaum lelaki yang beriman untuk selektif dalam mencari istri. Bukan saja harus mencari wanita yang tinggal di tempat yang baik, tapi juga yang punya paman dan saudara-saudara yang baik kualitasnya. “Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, dan nikahilah orang-orang yang sepadan (wanita-wanita) dan nikahilah (wanita-wanitamu) kepada mereka (laki-laki yang sepadan),” kata Rasulullah. (Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi).
04. Masih gadis
Siapapun tahu, gadis yang belum pernah dinikahi masih punya sifat-sifat alami seorang wanita. Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya. Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan orang lain, kecuali suaminya.
Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan menikah dengan gadis. “Hendaklah kalian menikah dengan gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang sedikit,” begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi.
Tentang hal ini A’isyah pernah menanyakan langsung ke Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah engkau akan menggembalakan untamu?” Nabi menjawab, “Pada yang belum pernah digembalai.” Lalu A’isyah berkata, “Itulah aku.”
Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan pertahanan dan kesucian.
05. Sehat jasmani dan penyayang
Sahabat Ma’qal bin Yasar berkata, “Seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, “Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Selanjutnya ia pun menghadap Nabi saw. untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi saw. tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (Abu Dawud dan Nasa’i).
Karena itu, Rasulullah menegaskan, “Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain.” (Abu Daud dan An-Nasa’i)
06. Berakhlak mulia
Abu Hasan Al-Mawardi dalam Kitab Nasihat Al-Muluk mengutip perkataan Umar bin Khattab tentang memilih istri baik merupakan hak anak atas ayahnya, “Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan.”
07. Lemah-lembut
Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari A’isyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai A’isyah, bersikap lemah lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lembah lembut ini.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah memasukkan sifat lemah lembut ke dalam diri mereka.”
08. Menyejukkan pandangan
Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita shalihah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya.” (Abu daud dan An-Nasa’i)
“Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya, pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah seperti lelaki terhadap suaminya,” begitu kata Rasulullah saw. lagi.
09. Realistis dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban
Salah satu sifat terpuji seorang wanita yang patut dicintai seorang lelaki shalih adalah qana’ah. Bukan saja qana’ah atas segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an, tetapi juga qana’ah dalam menerima pemberian suami. “Sebaik-baik istri adalah apabila diberi, dia bersyukur; dan bila tak diberi, dia bersabar. Engkau senang bisa memandangnya dan dia taat bila engkau menyuruhnya.” Karena itu tak heran jika acapkali melepas suaminya di depan pintu untuk pergi mencari rezeki, mereka berkata, “Jangan engkau mencari nafkah dari barang yang haram, karena kami masih sanggup menahan lapar, tapi kami tidak sanggup menahan panasnya api jahanam.”
Kata Rasulullah, “Istri yang paling berkah adalah yang paling sedikit biayanya.” (Ahmad, Al-Hakim, dan Baihaqi dari A’isyah r.a.)
Tapi, “Para wanita mempunyai hak sebagaimana mereka mempunyai kewajiban menurut kepantasan dan kewajaran,” begitu firman Allah swt. di surah Al-Baqarah ayat 228. Pelayanan yang diberikan seorang istri sebanding dengan jaminan dan nafkah yang diberikan suaminya. Ini perintah Allah kepada para suami, “Berilah tempat tinggal bagi perempuan-perempuan seperti yang kau tempati. Jangan kamu sakiti mereka dengan maksud menekan.” (At-Thalaq: 6)
10. Menolong suami dan mendorong keluarga untuk bertakwa
Istri yang shalihah adalah harta simpanan yang sesungguhnya yang bisa kita jadikan tabungan di dunia dan akhirat. Iman Tirmidzi meriwayatkan bahwa sahabat Tsauban mengatakan, “Ketika turun ayat ‘walladzina yaknizuna… (orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah), kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Lalu, sebagian dari sahabat berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik, tentu akan kami ambil”. Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri shalihah yang akan membantu seorang mukmin untuk memelihara keimanannya.”
11. Mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya
Nailah binti Al-Fafishah Al-Kalbiyah adalah seorang gadis muda yang dinikahkan keluarganya dengan Utsman bin Affan yang berusia sekitar 80 tahun. Ketika itu Utsman bertanya, “Apakah kamu senang dengan ketuaanku ini?” “Saya adalah wanita yang menyukai lelaki dengan ketuaannya,” jawab Nailah. “Tapi ketuaanku ini terlalu renta.” Nailah menjawab, “Engkau telah habiskan masa mudamu bersama Rasulullah saw. dan itu lebih aku sukai dari segala-galanya.”
12. Pandai bersyukur kepada suami
Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, sedang ia sangat membutuhkannya.” (An-Nasa’i).
13. Cerdas dan bijak dalam menyampaikan pendapat
Siapa yang tidak suka dengan wanita bijak seperti Ummu Salamah? Setelah Perjanjian Hudhaibiyah ditandatangani, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih kambing, dan bercukur, lalu menyiapkan onta untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, para sabahat tidak merespon perintah itu karena kecewa dengan isi perjanjian yang sepertinya merugikan pihak kaum muslimin.
Rasulullah saw. menemui Ummu Salamah dan berkata, “Orang Islam telah rusak, wahai Ummu Salamah. Aku memerintahkan mereka, tetapi mereka tidak mau mengikuti.”
Dengan kecerdasan dalam menganalisis kejadian, Ummu Salamah mengungkapkan pendapatnya dengan fasih dan bijak, “Ya Rasulullah, di hadapan mereka Rasul merupakan contoh dan teladan yang baik. Keluarlah Rasul, temui mereka, sembelihlah kambing, dan bercukurlah. Aku tidak ragu bahwa mereka akan mengikuti Rasul dan meniru apa yang Rasul kerjakan.”
Subhanallah, Ummu Salamah benar. Rasulullah keluar, bercukur, menyembelih kambing, dan melepas baju ihram. Para sahabat meniru apa yang Rasulullah kerjakan. Inilah berkah dari wanita cerdas lagi bijak dalam menyampaikan pendapat. Wanita seperti inilah yang patut mendapat cinta dari seorang lelaki yang shalih.
Salam, semoga bermanfaat adanya.
Kamis, 10 Februari 2011
KISAH GUGURNYA SAHABAT PADA PERANG UHUD
Dari Ibu Abbas radhiallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Saw Ketika saudara–saudara kalian gugur dalam perang uhud Allah menjadikan arwah–arwah mereka bagaikan burung–burung yang menuju sungai–sungai dalam surga, dan memakan buah – buahan yang ada di dalamnya kemudian berkumpul di sekitar pelita yang terbuat dari emas yang tergantung di atas singgasana (‘arsy).
Setelah mereka menemukan makanan yang lezat dan baik dan minuman yang segar, mereka berkata: siapa yang akan menyampaikan kepada saudara – saudara kita yang berada dalam pertempuran bahwasanya kita hidup disurga dan diberikan rizki, agar mereka lebih tegar dalam berjuang dan tidak merasa gentar saat berperang.
Lalu Allah Swt berfirman:
Aku yang akan menyampaikan kepada mereka (saudara –saudara kalian) tentang keadaan kalian sesungguhnya,[1] maka turunlah firman Allah yang artinya:
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur (dalam berjuang) di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi tuhannya dan mendapat rizki.
Mereka dalam keadaan gembira di sebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap saudara-saudara mereka yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.
Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak akan menyia – nyiakan pahala orang – orang yang beriman. Rabu, 09 Februari 2011
Kebersamaan di Diklat
Kebersamaan di diklat merupakan suatu keharusan yang ditanamkan oleh panitia dan Widia Iswara. Diklat Pembuatan media dengan TIK merupakan diklat tercapai, akan tetapi sangat menyenangkan bagi seluruh peserta. Banyak ilmu-ilmu baru yang diajarkan... inilah wajah teman-teman yang tak kenal lelah... jam istirahat kadang-kadang nggak mau istirahat... terus berpacu ... Trimakasih semuanya....
Keutamaan Membaca La Haula wa La Quwwata illa billah (Tidak Ada Daya dan Kekuatan Melainkan Karena Allah)
قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَاْ أَدُلُّكَ عَلَيْ كَلِمَةٍ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ هِيَ كَنْزُ الْجَنَّةِ تَقُوْلُ لَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوََّةَ إِلَّاْ بِاْلله فَيَقُوْلُ الله : أَسْلَمَ عَبْدِيْ وَاْسْتَسْلَمَ
Nabi SAW bersabda," Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah kalimat dari bawah Arsy yang merupakan harta simpanan surga, hendaknya kamu mengucapkan, “La Haula wa la Quwwata illa billah”, maka Allah akan berkata, “Hambaku telah selamat dan patuh”. (HR. Hakim dari Abu Hurairah RA).
قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: لَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ إِلَّاْ بِالله دَوَاْءٌ مِنْ تِسْعََةَ وَتِسْعِيْنَ دَاْءًا أَيْسَرُهَاْ الهَمُّ
Nabi SAW bersabda, “La Haula wa la Quwwata illa billah adalah merupakan obat dari 99 penyakit dan penyakit yang paling ringan di antaranya adalah rasa kegelisahan. (HR. Ibnu Abi Dunia dari Abu Hurairah RA).
قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: مَاْ عَلَىْ الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُوْلُ لَاْ إِلهَ إِلَّاْ الله وَالله أَكْبَرُ وَسُبْحَاْنَ الله وَالْحَمْدُ لِلّهِ وَلَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ اِلَّاْ بِالله اِلَّاْ كُفِرَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَاْنَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ البَحْرِ
Nabi SAW bersabda, “Tak ada seseorang yang berada di atas muka bumi ini yang mengucapkan la Ilaha illa Allah wa Allahu Akbar wa la Haula wa la Quwwata illa billah, kecuali segala kesalahannya akan terhapuskan, meskipun jumlah kesalahan tersebut lebih banyak dari buih di laut.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Amr RA).
قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: اِسْتَكْثِرُوْا مِنْ الْبَاْقِيَاْتِ الصَّاْلِحَاْتِ التَّكْبِيْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَالتّسَْبِيْحُ وَالتَّحْمِيْدُ وَلَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ اِلَّاْ بِالله ِ
Nabi SAW bersabda, “Perbanyaklah sisa-sisa dari amal yang shalih; membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan la haula wa la quwwata illa billah”. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Sa’id RA).
Taubat
إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang senantiasa bertaubat”.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang senantiasa bertaubat”.
Langganan:
Postingan (Atom)

